Rabu, 26 April 2017

PENERIMAAN PESERTA DIDIK DAN SANTRI BARU MTs DAN PONDOK PESANTREN YASINTA SALATIGA




MADRASAH TSANAWIYAH (MTs)
DAN PONDOK PESANTREN

YASINTA


MENERIMA PENDAFTARAN
PESERTA DIDIK DAN SANTRI BARU
TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Alamat : Jl. KH. Abdul Wahid No. 6 Tlp. (0298) 314588
Cabean Mangunsari Kec. Sidomukti Salatiga 50721
Contac Person : 087831163629, 081329223140

VISI
ILMU-TERAMPIL-BERIMAN-AMAL-NASIONALIS-AMANAH-BERBUDAYA-INOVATIF  ( ITBA’ NABI )
MISI
1.      Membina terwujudnya kualitas iman dan takwa peserta didik
2.      Menyelenggaraan pendidikan yang profesional, berkualitas dan bertanggung jawab
3.      Meningkatkan kualitas akdemis yang berwawasan IPTEK kepada peserta didik
4.      Membina terwujudnya kualitas akhlaqul karimah peserta didik
5.      Membina terwujudnya kualitas keterampilan dan Life Skill peserta didik
6.      Membina sikap mental kepedulian sosial peserta didik
7.      Mewujudkan keseimbangan ilmu umum dan agama kepada peserta didik

TUJUAN
1.      Membentuk Pribadi Yang Cerdas Terampil dan Berakhlaqul Karimah
2.      Meningkatkan Prestasi Melalui Metode yang Sesui Dengan Perkembangan Peserta Didik
3.      Mengembangkan Minat dan Bakat Siswa Melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler
4.      Membiasakan Perilaku Islami
5.      Membiasakan Pengamalan Ibadah Sebagai Dasar Perilaku Sehari-hari
6.      Meningkatkan Prestasi Non Akademik Peserta Didik

WAKTU PENDAFTARAN
Ø  Pendaftaran di Kantor MTs Yasinta
Jl. KH. Abdul Wahid No. 6 Cabean,  Mangunsari, Kec. Sidomukti, Salatiga
Ø  Pada Bulan April  s.d Juni 2017
Ø  Mulai Pukul 08.00 pada Hari Kerja
Ø  Contact person :
ü  Kyai Mashudi        : 087831163629
ü  Kurdi, S.Ag             : 081329223140
ü  Nurul Fahmi          : 089665421498
ü  Wulan Agustina, S.Pd.I : 085870110757
SYARAT PENDAFTARAN
1.      Foto Copy legalisir Ijazah SD/MI 1 lembar
2.      Foto Copy legalisir SKHUN
3.      Foto Copy KTP Orang Tua
4.      Foto Copy Akte Kelahiran 1 Lembar
5.      Foto Copy Kartu Keluarga
6.      Pas Foto 3x4 = 3 Lembar
7.       Mengisi formulir pendaftaran
8.       Bagi yang belum mendapatkan ijazah dan SKHU bisa mendaftar pakai RAPORT SD

Pentagon: ++Progam Unggulan
TAHFIDZ AL-QUR’AN
FASILITAS
1.      Bebas Biaya SPP MTs dan Ponpes
2.      Bebas Uang Gedung MTs dan Ponpes
3.      Asrama  Putra dan Putri
4.      Gratis Seragam Identitas Madrasah
5.      Gratis Makan Malam
6.      Ekstrakurikuler Pencak Silat
7.      Ekstrakurikuler Drum Blek
8.      Ekstrakurikuler Seni Rebana
9.      Ekstrakurikuler MTQ


PRESTASI SISWA

1.      Juara I Karate Puti kelas D Kota Salatiga tahun 2017
2.      Juara II karate Putra Kelas D Kota Salatiga tahun 2017
3.      Juara III Tilawah Qur’an MTQ Salatiga tahun 2017
4.      Juara II Tartil Qur’an MTQ Kota Salatiga th. 2017
5.      Juara II KSM Fisika Tk. Kota Salatiga Tahun 2015
6.      Juara III CCWI Kota Salatiga dan Kab Semarang  2015
7.      Juara II Seni Rebana AKSIOMA Kota Salatiag 2015
8.      Juara II Atletik AKSIOMA Kota Salatiga 2015
9.      Juara II Bulu Tangkis AKSIOMA Kota Salatiga 2015
10.  Juara II Sini Kaligrafi AKSIOMA Kota Salatiga 2015
11.  Juara I Karate Kelas E Salatiga Cup 2014
12.  Juara II Karate Kelas D Salatiga Cup 2014
13.  Juara II KSM Fisika Kota Salatiga 2014
14.  Juara II KSM Biologi Kota Salatiga 2014
15.  Juara I lintas alam Kab Semarang dan Salatiga 2013
16.  Juara I Karate Kls E Popda Kota Salatiga 2013
17.  Dan Masih Banyak lagi yang lainnya

Selasa, 18 April 2017

KEBERHASILAN PENDIDIKAN KARAKTER DI PONDOK PESANTREN

 Oleh : Nurul Fahmi

  Pendidikan merupapakan proses sepanjang hayat untuk melakukan perubahan kearah lebih baik. ranah pendidikan sepanjang hayat (minal mahdi ilal lahdi) tentunya melibatkan semua hal yang ditemui oleh orang yang melakukan proses pendidikan dari kelahiran sampai kematiannya. proses pendidikan manusia terjadi di lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan formal maupun non formal, lingkungan kerja dan semua lingkungan dimana manusia hidup.
Proses pendidikan tidaklah hanya sebatas pemberian ilmu pengetahuan (transferring of knowledge) kepada peserta didik tetapi juga harus mampu memberikan penanaman nilai-nilai kemanusiaan, spiritual, social budaya untuk diaplikasikan dalam tindakan nyata sebagai buah dari proses pendidikan itu sendiri serta mampu menghasil ketrampilan hidup sebagai bekal untuk menghadapi tantang zaman yang akan datang. Orang tua, guru, ustad, kyai, dan tokoh masyarakat adalah para pendidik yang merupakan ujung tombak dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Hal ini menuntut para pendidik untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan serta meningkatkan profesionalitasnya demi tercapainya harapan bangsa yang terletak ditangan mereka.
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang cukup sukses dalam menginternalisasikan nilai-nilai pembentuk karakter positif (mulia) pada peserta didiknya yaitu para santri. Hal ini tentunya tidak terlepas dari gaya dan metode pendidikan yang diterapkan dalam dunia pondok pesantren yaitu metode keteladanan (modeling) dan metode pembiasaan (habiting).
Metode keteladanan merupakan metode paling ampuh dalam memberikan pendidikan karakter santri. Metode keteladanan (modeling) merupakan metode Rasulullah dalam memberikan pendidikan kepada para sahabatnya. Rasulullah SAW mentransformasikan Al Qur’an sebagai wahyu dari Allah SWT kedalam sikap dan perbuatan beliau sehingga para sahabat langsung mendapat visualisasi nyata dalam alqur’an yang lebih mudah dipahami dan ditirukan. Sebagaimana yang dikatan Aisyah bahwa “Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an” maka segala yang diperhatikan sahabat dari diri Rasulullah merupakan pendidikan akhlak Al Qur’an.
Pendidikan karakter di pondok pesantren selalu terkait dengan figure seorang kyai sebagai sosok teladan yang diidolakan para santri. Dengan system pembelajaran mondok (menginap; asrama) akan memberikan interaksi yang intens dan berkelanjutan antara santri dan kyai, sehingga model pendidikan keteladanan ini dapat terlaksana seharian penuh di pondok pesantren. Santri dapat dengan mudah mengamati aktualisasi dari teori dan materi dalam kitab yang mereka kaji pada sosok kyainya. Apalagi seorang kyai biasanya mempunyai karakter kuat, menjadi pemimpin dan tokoh masyarakat, mempunyai kebijaksanaan hidup, berjiwa besar dan  berjiwa social. berbagai karakter mulia yang melekat pada diri seorang kyai beserta berbagai track record-nya akan mendobrak semangat santri untuk terus meneladani kyainya.
Pondok pesantren dengan system asramanya juga akan mampu membentengi pengaruh negative dari pegaulan yang terlalu bebas dan dampak negative globalisasi lainnya yang akan merusak karakter mulia yang telah dibangun oleh pendidikan di pondok pesantren, sehingga karakter yang tertanam pada diri santri tidak terganggu dengan pengaruh lain yang sifatnya merusak pendidikan tersebut.
Dalam menginternalisasikan nilai pembentuk karakter mulia santri, dalam pendidikan  pondok pesantren juga identik dengan metode pembiasaan (habiting). Hal ini dapat dilihan dari berbagai jadwal kegiatan di pondok pesantren yang cukup padat dan beragam. Misalnya untuk menanamkan disiplin dan sikap religious ada kegiatan qiyamul lail, salat jamaah, pembacaan asma’ul husna, muraja’ah al qur’an. Untuk menanamkan cinta kebersihan dan lingkungan, digalakkan kegiatan kerja bakti bersih-bersih lingkungan pondok pesantren (ro’an), ada pula pembiasaan antri ambil makan dan antri mandi untuk menanamkan budaya mengantri dan banyak kegiatan lain yang merupakan wujud dari pembiasaan internalisasi nilai pembentuk karakter santri.
Sejarah pondok pesantren dan perjalanan bangsa  ini telah membuktikan bahwa pendidikan pondok pesantren mampu menghasilkan banyak generasi salih berkarakter yang mampu mengambil peran dalam pranata social, kenegaraan dan kemasyarakatan. Pondok pesantren menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam mendidik putra-putri bangsa untuk mewujudkan insan yang berkarakter dan mempunyai kecakapan hidup sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan bermasyarakat.

Selasa, 11 April 2017

ANAK BANGSA MERINDUKAN SOSOK TELADAN


ANAK BANGSA MERINDUKAN SOSOK TELADAN
Oleh : Nurul Fahmi
Pentingnya membangun reputasi moral bagi setiap individu sebagai public figure bagi orang-orang di sekitarnya demi memutus silsilah mata rantai devisiasi moral anak bangsa


Berita tentang kriminal, narkoba, korupsi, pungli, teroris, kejahatan seksual sampai pertikaian anggota dewan selalu menghiasi layar telefisi dan mendominasi pemberitaan di surat kabar media-media di Indonesia. Berita pembunuhan di SMA Taruna Nusantara Magelang, suap ketua MK, pencabulan anak laki-laki dibawah umur oleh dosen, artis yang terjerat kasus narkoba dan pertikaian yang ditontonkan angota DPD menjadi head line pemberitaan di berbagai media di Indonesia. Penyajian berita yang sejenis juga selalu ada dalam setiap kurun waktu dengan berbagai kasus yang beragam. Hal tersebut, diinginkan atau tidak pasti akan ikut mempengaruhi dalam menentukan karakter generasi penerus bangsa, karena Para pelajar, pemuda, dan masyarakat luas pada umumnya lebih cepat meniru informasi negatif yang mereka dapatkan dari pada menggali hikmah dibalik kejadian memalukan tersebut.
Melihat realitas yang terjadi di Indonesia, yakni terjadinya krisis multidimensional, khususnya devisiasi moral yang ditunjukkan oleh  berbagai elemen bangsa, tentunya menimbulkan kesedihan yang mendalam bagi orang-orang yang masih memiliki hati nurani.
Degradasi moral yang menjangkiti generasi penerus bangsa tidak bisa divonis hanya disebabkan oleh kesalahan mereka. Kemungkinan besar justru generasi penerus bangsa ini menjadi korban atas kenegatifan yang dicontohkan oleh para public figure yang mereka lihat secara langsung dilingkungan sekitarnya maupun dari pemberitaan di berbagai media, baik di lembaga pendidikan, masyarakat sekitar, kelakuan para elite politik, artis maupun para petinggi bangsa ini.
Umtuk memutus mata rantai pewarisan karakter negatif oleh para public figure terhadap generasi penerus bangsa tentunya membutuhkan kesadaran dan upaya konsisten dari semua pihak. Kehadiran sosok panutan yang karismatik dengan otoritas moral yang baik tentu sangat dirindukan oleh bangsa ini.
Public figure karismatik dengan otoritas moral yang dirindukan oleh berjuta-juta jiwa di Indonesia tentunya tidak cukup jika hanya muncul beberapa nama saja di nusantara. Hal ini justru menuntut setiap orang untuk mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi orang lain. Tekad untuk bangkit dari  degradasi moral demi membangun karakter bangsa yang anggun berkharisma harus dimulai dari setiap pribadi dan menyebarkannya kepada orang-orang terdekat. Para orang tua harus mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi putra-putrinya, karena orang tualah yang paling mempunyai kedekatan fisik maupun batin terhadap anaknya. Seorang pendidik harus mampu menunjukkan reputasi moral bagi anak didiknya, apa lagi melihat tugas agung sebagai seorang pendidik yang bertugas menanamkan karakter dan akhlak mulia bagi anak didiknya. Para public figure yang lainnya, seperti artis, pejabat, tokoh masyarakat dan lainnya juga harus bertanggungjawab membangun reputasi moral mereka, karena segala perbuatan mereka senantiasa diperhatikan oleh banyak orang.
Membangun reputasi moral adalah pekerjaan yang tidak pernah ada selesainaya. Reputasi moral menunjukkan prestasi besar seseorang dalam menegakkan moral setelah melalui serangkaian ujian demi ujian sampai akhirnya reputasi moralnya terbangun dengan kokoh. Orang-orang besar yang telah menunjukkan reputasi moral yang agung mengalami berbagai ujian hidup yang berat, tetapi dilalui dengan penuh keyakinan, kesabaran, keikhlasan, dan kegigihan.
Peran seorang figure teladan dalam rangka membangun otoritas moral yang paling penting adalah mengusahakan implementasi moral agung tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Target utamanya adalah menjadikan generasi penerus bangsa sebagai kader-kader pemimpin masa depan yang mempunyai otoritas moral.
Setiap orang adalah menjadi figure teladan bagi dirinya dan orang-orang disekitarnya, oleh karena itu kesadaran untuk mempunyai reputasi moral harus tertanan dalam setiap orang. Terlebih lagi bagi orang-orang yang selalu menjadi perhatian masyarakat dan mempunyai pengaruh terhadap orang lain.
Agar seseorang bisa menjadi fugur teladan bagi orang lain tentu harus berusaha memantaskan diri untuk diteladani oleh orang lain, hal tersebut perlu diupayakan dengan berbagai hal, diantaranya:
1.      Memupuk kimanan dan ketakwaan.
Hal ini merupakan asas paling pokok, setiap orang yang senantiasa melekat padanya rasa keimanan dan ketakwaan tentunya dalam berbuat selalu berada dalam jalur kebenaran yang pantas untuk diteladani orang lain. Karena orang yang paling baik adalah orang yang paling bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT “sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” Keimanan dan ketakwaan bisa ditingkatkan dengan memperbanyak wawasan agama, memahami wahyu Tuhan, serta melakukan silaturrahim dan diskusi bersama ahli agama.
2.      Memperluas pengetahuan
Dengan semakin luas wawasan dan ilmu pengetahuannya sudah tentu akan memberikan kemantapan dalam bertindak dan menjadikannya sebagai orang yang lebih bijaksana karena keluasan ilmunya. Dengan demikian maka siapapun, kapanpun dan dimanapun tertuntut untuk selalu mengembangkan ilmu dan wawasannya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW. “menuntut imu adalah wajib bagi setiap muslim dari waktu kelahiran hingga masuk liang kubur”
3.      Banyak mempelajari kisah tokoh bijaksana beserta filosofi hidupnya.
Hal ini bisa diperoleh dengan membaca buku maupun media on line yang menuliskan kisah-kisah orang bijaksana, tokoh islam, tokoh pejuang kemanusiaan, tokoh internasional, tokoh nasional dan tokoh-tokoh lain yang sangat banyak sekali ragamnya.
4.      Memupuk rasa empati terhadap sesama manusia.
Dengan semakin banyak rasa empati terhadap orang lain akan menjadikan orang tersebut secara otomatis mendapatkan pelajaran hidup dan hikmah dibalik suatu peristiwa yang dialami orang lain. Hal ini tentu akan menjadikan seseorang menjadi manusia berkarisma yang memiliki kebijaksanaan hidup dan berpengaruh terhadap hidup orang lain.
Selain hal tersebut di atas tentunya masih banyak terobosan lain yang bisa dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menjadi figure teladan bagi orang lain demi membangun karakter anak bangsa menjadi lebih baik lagi. Setiap orang harus menjadi figure teladan bagi dirinya sendiri dan orang lain yang mengenalnya.

Selasa, 14 Maret 2017

CONTOH BIOGRAFI PENULIS BUKU



 TENTANG PENULIS

Maz Fahmi, dia lahir di wilayah Kabupaten semarang pada tanggal 15 Januari tahun 1991, putra pertama dari bapak Sumyani dan Ibu Sarti yang beralamat di Dusun Sumbersari RT 12 RW 04 Desa Bakalrejo, Kecamatan Susukan.
Pendidikan SD ia tempuh di SD Negeri 01 Bakalrejo lulus tahun 2003, kemudian melanjutkan pendidikan di SLTP N 2 Karanggede lulus pada tahun 2006, melengkapi perjalanan pendidikannya di MAN Suruh kabupaten Semarang hingga tahun 2009 disertai pendidikan Pondok Pesantren di Ma’had Al Islamiyah An Nibros Al Hasyim As Salafyi yang berada di Desa Reksosari, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang selama kurang lebih 4 tahun lamanya. Dan pada bulan April 2018  telah menyelesaikan S1 jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Salatiga, Indonesia.
Pada jam kerja beliau bisa dijumpai di MTs Yasinta Salatiga yang beralamatkan di Jl. KH. Abdul Wahid No. 6 cabean, Mangunsari, Salatiga. sebagai Kepala Tata Usaha sekaligus mengajar beberapa mata pelajaran, selepas  itu beliau menghabiskan waktu untuk  mengabdikan diri di Pondok Pesantren Yasinta Salatiga yang telah dimulai sejak awal tahun 2014 yang lal dan akun facebooknya bernama Fahmy, serta via email nurulfahmy585@yahoo.co.id. Untuk karya tulisnya yang lain seperti; makalah, opini, artikel, karya tulis populer dan lainnya bisa diakses di akun blognya yaitu di  mazfahmy.blogspot.co.id

Kamis, 09 Maret 2017

HAKIKAT KEGIATAN ULANGAN (EVALUASI BELAJAR)



HAKIKAT KEGIATAN ULANGAN (EVALUASI BELAJAR)
Oleh : Nurul Fahmi
Sudah menjadi kelaziman umum bahwa pada setiap lembaga pendidikan dasar,  menengah maupun perguruan tinggi selalu mengagendakan kegiatan ulangan (evaluasi belajar)  secara rutin di tengah semester, ahir semester atau setiap menyekesaikan pembelajaran satu Kompetensi Inti. 
Tujuan utama kegiatan evaluasi pembelajran adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran, dengan diadakan evaluasi makan akan diketahui kekurangan maupun kelebihan proses pembelajaran yang telah dilakukan dan mendapatkan gambaran keberhasilan pembelajaran. Setelah diketahui gambaran tingkat keberhasilan pada proses pembelajaran sebelumnya beserta kekurangan dan kelebihannya maka diharapkan dapan memberikan pijakan, arah serta rencana pembelajaran kedepan  untuk lebih mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
Namun demikian hakikat dari kegiatan evaluasi pembelajaran yang telah dituangkan dalam bentuk kegiatan ulangan tersebut tidak serta merta dipahami oleh para pelaku kegiatan pembelajaran. Masih ada beberapa pendidik yang tidak mengambil manfaat dari kegiatan evaluasi tersebut kecualai hanya untuk mengetahui dan menjudge anak didiknya sebagi siswa yang pintar atau kurang pintar. Tidak jarang juga dari hasil evaluasi siswa tersebut kemudian memunculkan siswa yang dianak emaskan dan lebih parahnya ada yang mendapat label sebagi Stupid Student yang kemudian seolah-olah ada kasta dalam kelas pembelajaran. Menurut hemat saya, pengkastaan anak didik justru akan merusak nilai-nilai pendidikan dan bisa merusak karakter peserta didik.
Kegiatan evaluasi pembelajaran sebenarnya tidak untuk mengevaluasi dan mengklasisfikasikan  peserta didik dalam kategori pintar dan kurang pintar. lebih dari itu, kegiatan tersebut sebenarya lebih mengevaluasi seluruh system pembelajaran pada setiap lembaga pendidikan secara komprehensif, baik dari sisi managemen, perencanaan, proses pembelajaran dan terlebih lagi bagi paran pendidiknya.
Ketika hasil evaluasi tidak mencapai tingkat keberhasilan yang ingin dicapai maka seorang pendidik yang harus segera berintropeksi dan melakukan perbaikan untuk keberhasilan pembelajaran selanjutnya, tidak serta merta mengkambing hitamkan pihak lain. Meskipun telah tentu keberhasilan belajar ditentukan dari berbagai faktor.
Pada ahirnya saya berharap untuk diriku sendiri maupun orang lain khususnya para pendidik untuk menyadari bahwa kegiatan evaluasi pembelajaran bukan serta merta untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa, namun lebih pada evaluasi secara komprehensif bagi system pendidikan disetiap lembaga pendididkan. Karena kegiatan tersebut sebenarnya dimaksudkan untuk meningkan mutu pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan yang ujung tombakknya adalah para pendidik.

MULUT, MATA, DAN TELINGA

Allah Swt. menganugrahkan kepada manusia 1 mulut, 2 telinga, dan 2 mata sebagai alat indra yang sangat penting dalam proses menerima rangsan...