untuk bahagia, tidak harus memaksakan keadaan untuk selalu mengikuti kemauan hati, tetapi akan lebih mudah berbahagia jika kita memampukan hati untuk mensyukuri setiap keadaan kita.
media berbagi ilmu, pengalaman dan refleksi pemikiran tentang pendidikan, agama, kebudayaan, kehidupan sosial, motivasi dan hikmah kehidupan.
Senin, 18 September 2017
INDAHNYA PERSAUDARAAN INI
Segala sesuatu yang didasari rasa iklas dan penuh syukur pasti akan membahagiakan,
untuk bahagia, tidak harus memaksakan keadaan untuk selalu mengikuti kemauan hati, tetapi akan lebih mudah berbahagia jika kita memampukan hati untuk mensyukuri setiap keadaan kita.
Melakukan kegiatan dengan penuh syukur artinya kita sedang membahagiakan diri
untuk bahagia, tidak harus memaksakan keadaan untuk selalu mengikuti kemauan hati, tetapi akan lebih mudah berbahagia jika kita memampukan hati untuk mensyukuri setiap keadaan kita.
Minggu, 27 Agustus 2017
MEMBANGUN MEDAN MEGNET KESUKSESAN
MEMBANGUN MEDAN MEGNET KESUKSESAN.
Oleh : Nurul Fahmi
Kehidupan ini memang penuh dengan pilihan-pilihan sikap untuk
menanggapi kesuksesan seorang teman, saudara, tetangga dan orang lain. Sangat disayangkan,
tidak sedikit orang yang memilih meresahkan dirinya atas keberhasilan orang
lain dalam bidang tetentu dan menyibukkan diri dalam usaha jahat menghalangi
keberhasilannya.
Ketika seseorang memilih cara negative dalam merespon (peluang)
keberhasilan orang lain sebenarnya sedang mengurung dirinya sendiri dalam
kegagalan. Energi yang dimilikinya hanya dihabiskan dalam kesia-siaan untuk
meresahkan keberhasilan orang lain dan tidak difokuskan pada kesuksesannya
sendiri.
Orang yang menginginkan dirinya semakin tinggi tentu tidak
bisa dilakukan dengan membuat rendah orang lain. Yang menginginkan dirinya
menjadi terbaik tentu tidak bisa dilakukan dengan memperburuk orang lain. Ingin
jadi orang yang berhasil tentu tidak bisa dilakukan dengan menggagalkan orang
lain. Jika usaha yang dilakukan adalah usaha negative tersebut maka tidak akan
pernah bisa mengkualitaskan dirinya dan yang terjadi adalah sebaliknya, memper
buruk dirinya sendiri.
Marilah saling mendukung dan bersinergi dalam kesuksesan
bersama. Bukankah orang sukses adalah orang yang mampu mensukseskan
(bersama-sama) orang lain? Bukankah orang yang paling bahagia adalah yang mampu
membahagiakan (bersama-sama) orang lain?
Sebagaimana teori kemagnetan, bahwa medan magnet bisa dibuat
dari pergerakan teratur yang terus menerus sehingga mampu menarik benda-benda magnetik
disekitarnya, semakin besar medan magnetnya maka semakin kuat daya tariknya. Begitupun
kesuksesan, ketika seseorang menggunakan energy dan pergerakannya untuk membangun
kesuksesan, baik bagi dirinya maupun orang lain maka kesuksesan demi kesuksesan
akan menempel pada dirinya. Dan semakin besar medan kesuksesan yang dibuat
bersama-sama orang yang mengusahakan kesuksesan maka semakin besar pula daya
tarik kesuksesannya. Sebaliknya ketika energy dan pergerakan yang dilakukan
adalah untuk menghambat orang lain maka yang terjadi adalah dirinya sendiri
yang paling terhambat untuk sukses. Maka tidak ada alasan untuk tidak saling
mendukung dalam meraih berbagai jenis kesuksesan.
Manusia yang stau dengan yang lainnya bukan merupan hambatan
kesuksesan bagi masing-masing pribadi, tetapi justru mereka adalah rekan dalam
menggapai kesuksesannya. Mereka harus bersinergi dalam usaha positif yang
mendatangkan keberhasilan dan kebahagiaan.
Bukalah matahati, pikiran, dan perasaan, lepaskan diri dari
belenggu iri dan dengki yang justru menyakiti diri sendiri. Bergerak dan
melangkahlah pada medan kesuksesan dengan usaha-usaha positif dan sportif,
bergabung dan bersinergilah dengan orang-orang baik yang melakukan pergerakan
positif dan bersamalah mereka dalam meraih kesuksesan.
BACA : PEMBUNUHAN KARAKTER HARUS DIHAPUSKAN
BACA : PEMBUNUHAN KARAKTER HARUS DIHAPUSKAN
Rabu, 14 Juni 2017
KISAH TELADAN RASULULLAH SAW. : MEMAAFKAN KAUM YANG MENGHUJANINYA BATU
Kisah
ini terjadi ketika Rasulullah SAW. hijrah ke Thaif karena mendapat gangguan
dari kaum Quraisy yang sangat berat dan sulit setelah beliau ditinggal wafat
oleh pamannya yaitu Abu Thalib.
Rasulullah
SAW pergi ke Thaif pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Menurut Ibnu Sa’ad, Ibnu Atsir, dan
Al-Maqrizi, dalam perjalanannya beliau
ditemani oleh seorang pelayannya yang bernama ZAid bin Haritsah.
Thaif
adalah kota tempat penyembahan Laata, patung yang disembah dan dijadikan tujuan
ritual tahunan.
Ketika
sampai di Thaif, beliaumenemui kelompok para pemuka dan pimpinan Bani Tsaqif.
Beliau duduk bersama dan mengajak mereka untuk beriman kepada Allah SWT.
ternyata mereka justru meresponnya dengan penolakan yang sangat keras, mereka
menghina beliau dan membujuk orang-orang bodoh serta para budak untuk mencela
dan meneriakinya dengan caci maki dan cemoohan. Mereka kemudian melempari
beliau dengan batu kemudian Rasulullah SAW. duduk dibawah pohon kurma dalam
keadaan menderita.
Apa
yang ditemunya di Thaif ternyata jauh lebih berat dari pada apa yang
diterimanya dari orang-orang musyrik di Makkah. Penduduk Thaif berdiri dua
baris untuk menghadang Rasulullah SAW. dan dan Zaid bin Haritsah di jalan.
Ketika Beliau lewat, mereka menghujaninya dengan batu, hingga Rasulullah SAW.
dan Zaid bin Harits tidak sempat mengangkat kaki kecuali selalu terkena
lemparan batu hingga kaki beliau berdua berdarah.
Hati
dan mulut beliau berdoa, mengadukan kelemahannya dan berlindung kepada Allah
SWT memohon pertolongan dan dukungan-Nya :
“
Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya diriku, terbatasnya usahaku,
dan hinanya diriku dihadapan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pemberi Kasih
saying, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku.
Kepada isiapakah engkau menyerahkanku? Apakah kepada orang yang jauh
menyiksaku? Ataukah kepada musuh yang telah Engkau beri kekuasaan untuk
mengalahkanku? Jika tidak ada kemurkaanmu, maka aku tidak akan peduli, hanya
saja kesejahterann-Mu lebih luas untukku”
“Aku
berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, yang diperbaiki
dengan urusan dunia dan akhirat, agar kiranya Engkau tidak menimpakan
kemurkaan-Mu kepadaku, atau menempatkan kemurkaan-Mu kepadaku, Hanya lilik-Mu
segala keridhaan, hingga Engkaupun meridhaiku. Tidak ada daya dan upaya kecuali
dari-Mu”
Lalu
Allah mengutus malaikat penjaga gunung. Ia meminta izin kepada Rasulullah SAW.
untuk membalikkan gunung dan ditimpakan kepada mereka. Namun Rasulullah SAW
berkata, “ Aku bahkan berharap agar dari keturunan mereka lahir orang-orang
yang menyembah Allah Yang Maha Esa, dan tidak menyekutukan-Nya.”
***_____________________________
Begitulah akhlak
Rasulullah SAW. yang menjadi suri tauladan manusia di alam semesta ini. Beliau
mempunyai rasa kasih sayang dan pemaaf yang tak terbatas, betapapun beliau
dihina, dicemooh, dicaci maki dan disakiti fisiknya. Yang keluar dari sikap
beliau ternyata justru kasih sayang dan maaf, beliau masih mengharapkan kebaikan
dan mendoakannya dengan doa yang baik, meskipun beliau mendapatkan tawaran dari
malaikat untuk menghancukan kaum tersebut dengan menimpakan gunung pada mereka.
Tidak ada gunanya menyimpan
dendam didalam dada, merawat kebencian, dan membudidayakan iri dan dengki, karena semua itu hanya akan menjadikan dada
sesak, tekanan darah menjadi naik tak terkontrol, jiwa terasa rapuh dan pikiran
selalu diliputi awan hitam dan hidup diwilayah khayalan, ilusi dan
rencana-rencana jahat yang sangat melelahkan.
Sikap pemaaf justru akan
melahirkan ketentraman dan kedamaian hati, rasa syukur terhadap apa yang kita
miliki dan bersabar terhadap apa yang kita terima akan menumbuhkan dan
menyebarkan virus-virus kebahagiaan yang menenangkan jiwa, menjernihkan
pikiran, menentramkan hati dan menyehatkan badan.
Baca Juga:
Kamis, 08 Juni 2017
CARA MENGGAPAI KEBAHAGIAAN YANG DIRAHMATI ALLAH SWT.
Kebahagiaan adalah suatu hal yang diinginkan oleh semua makhluk
Allah SWT. segala sesuatu yang dilakukan dan dikelola manusia bisa menjadi
suatu hal yang membahagiakan apabila diliputi rahmat dari Allah SWT.
keluarga bahagia, cita-cita tergapai, hidup penuh kedamaian dan
ketentraman, itu sebab mendapat rahmat
dari Allah SWT. tidak jarang manusia punya
banyak harta, keluarga dan sahabat yang banyak, pekerjaan yang enak, tetapi
tidak merasa berbahagia dan tentraman hidupnya dikarenakan tidak mengalir rahmat
Allah pada mereka. Orang pada akhir hayatnya mampu mengikrarkan kalimah
syahadat dan maninggal dengan khusnul khatimah juga merupakan bentuk dari
rahmat Allah SWT. setelah di alam kubur mendapatkan kemudahan menjawab
pertanyaan malaikat, dan mendapatkan kenikmatan kubur juga karena rahmat Allah
SWT. kemudian pada hari kiamat bisa
melalui seluruh rangkaiannya dengan keadaan yang baik dan selamat, mulai dari
bangkit dari kubur, berkumpul di padang mahsyar, melewati hari perhitungan
amal, menyebrangi sirat Al-Mustaqim, dan pada akhirnya seseorang bisa
masuk syurga juga karena rahmat dari Allah SWT.
Apabila kita hanya mengandalkan amal ibadah kita, sungguh sangat
dikawatirkan amal kita merupakan amal yang rusak dan tidak diterima, karena
kita tidak bisa menjamin sepenuhnya bahwa amal kita diterima. Maka yang harus
dilakukan adalah beramal sebaik mungkin sesuai kemampuan maksimal, kemudian
memasrahkan hasilnya kepada Allah serta dengan selalu mengharap untuk
mendapatkan rahmat Allah SWT. karena dengan rahmat Allah, kita bisa
selamat, hidup bahagia di duia dan akhirat.
Dalam sebuah hadis memberitahukan cara menggapai rahmat
allah SWT. yaitu hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya
Rasulullah SAW. bersabda (yang artinya) :
“Orang-orang yang pengasih, akan dikasihi (dirahmati) oleh Dzat
Yang Maha Kasih. Kasihilah mahluk-mahluk di bumi, maka akan mengasihimu segala
sesuatu yang ada dilangit.” -Al Hadis-
Dari hadis tersebut tersebut dapat kita pahami bahwa Allah akan
mencurahkan kasih sayangnya kepada mereka yang memberikan kasih sayang kepada
hamba-hamba Allah lainnya. Dan jika kita mengasihi makhluk Allah di bumi ini,
maka kita juga akan dikasihi oleh penghuni langit.
Mahluk Allah yang harus
dikasih sayangi di bumi ini tidak hanya sebatas pada manusia saja, melainkan
juga mahluk-mahluk yang lain seprti hewan, tumbuhan dan seluruh lingkungan
hidup kita, terhadap hewan kita tidak berbuat aniaya, menjaga kelestarian hidupnya, terhadap tumbuhan kita
merawat kehidupannya, terhadap lingkungan kita menjaga kelestarian dan
kebaikannya. Terhadap manusia selalu berbuat baik pada mereka dengan didasari
rasa kasih sayang yang ikhlas. Menghormati, memuliakan dan melayani orang tua dengan sebaik-baiknya, Anak-anak dirawat, didik dengan baik, dicarikan
rizki yang halal dan dipenuhi hak-haknya, suami/istri diperlakukan dengan baik,
penuh cinta kasih dan dan saling memenuhi haknya masing-masing, terhadap orang
lain ramah, pemurah, berjiwa sosial, penuh simpati dan
empati terhadap orang lain. Dan hal-hal lain yang semuanya merupakan wujud dari
kasih sayang sesama makhluk Tuhan. InsyaAllah dengan hidup berkasih sayang
inilah Allah akan mencurahkan rahmatnya bagi kita didunia sampai kelak di
kehidupan akhirat.
Dr. ‘Aid al-Qarni dalam bukunya La
Tahzan mengatakan: “Ketika diri anda diliputi kesedihan dan kegundahan,
berbuat baiklah terhadap sesama manusia, niscaya anda akan mendapatkan
ketentraman dan kedamaian hati.”
Hal tersebut sejalan dengan indikator kebaikan yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad bahwa kebaikan adalah apa yang menentramkan jiwa dan apa
yang menentramkan hati, sedangkan dosa adalah yang mengganggu jiwa dan
menimbulkan keragu-raguan di dada.
Kebaikan yang diakukan terhadap orang lain akan memberikan manfaat
pertama kali dan paling besar mendapat manfaatnya adalah pelakunya. Orang yang
memberikan hartanya kepada orang lain akan jauh lebih merasakan kebahagiaan
dari yang menerima pemberian, orang yang bersikap ramah, murah senyum akan
lebih merasakan kebahagiaan dari yang menerima keramahan dan senyum kita.
Tidak ada ruginya berbuat baik, menolong kesulitan, memecahkan
masalah, dan membantu meringankan beban hidup orang lain karena manfaat yang
lita dapatkan dari amal kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas akan kembali
pada pelakunya dengan balasan yang jauh lebih baik yang langsung diberikan oleh
Allah. Firman Allah dalam Alqur’an yang arytinya:
Barang siapa mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan padanya
kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka
dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl: 97)
Dalam sebuah hadis juga menyebutkan.
Dari Abu Hurairah RA, dari Raulullah SAW bersabda: barang siapa
yang meringankan sebuah kesulitan (derita) dunia dari seorang mukmin, niscaya
Allah akan meringankan untuknya sebuah kesulitan dihari kiamat. Barang siapa
memberikan kemudahan bagi orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah
akan membantu memudahkannya sat mengalami kesulitan didunia dan akhirat. Barang
siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan tutupkan (aibnya) didunia
dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya itu menolong
saudaranya. . . . (HR. Muslim)
Mari kita hidup saling mengasihi agar kita dikasihi Allah didunia
dan akhirat, kita berbuat baik, membantu meringankan beban hidup orang kain,
menolongnya, dan menutup aibnya agar kita dibantu, ditolong, diselamatkan dan
ditutupi aibnya oleh Allah SWT.
Kebahagiaan adalah ketika kita bisa membuat orang lain bahagia.
BACA JUGA KISAH INSPIRATIF; GARAM DALAM GELAS
BACA JUGA KISAH INSPIRATIF; GARAM DALAM GELAS
Langganan:
Postingan (Atom)
MULUT, MATA, DAN TELINGA
Allah Swt. menganugrahkan kepada manusia 1 mulut, 2 telinga, dan 2 mata sebagai alat indra yang sangat penting dalam proses menerima rangsan...
-
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh… MUQODDIMAH…… Dumateng Ngarsanipun para sesepuh, pinisepuh, para ‘alim ulama ingka...
-
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tujuan pendidikan Islam seiring dengan tujuan Allah menciptalkan manusia, yakni untuk m...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Al Qur’an dan Hadis merupakan sumber utama hukum islam, maka menjadi sangat penting bag...

