Senin, 21 November 2016

Faktor faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Tujuan pendidikan Islam seiring dengan tujuan Allah menciptalkan manusia, yakni untuk mengabdi kepada-Nya. Pengabdian pada Allah sebagai realisasi dari keimanan yang diwijidkan dalam amaliah untukmencpai derajat orang yang taqwa disisinya,. Kemudian Allah menciptakan manusia sebagai khalifah untuk melaksanakan tugasnya. Khlifah dituntut menjadikan sifat-sifat Allah bagian dari karakteristik keperibadiannya untuk mendukung terwujudnya kemakmuran. Pengabdian dan ketaqwaan kepada Allah merupakan jembatan untuk mencapai kebahagian hidup didunia dan akhirat.[1]
Metode suatu alat penting dalam pendidikan agama islam Yang mana dengan menggunakan metode yang tepat maka ajaran-ajaran yang disampaikan dapat diserap oleh anak didik dengan sebaik-baiknya. Metode yang tepat akan menentukan efektifitas dan efisiensi pembelajaran.
Dalam penerapanya, metode pendidikan Islam menyangkut permasalahan individual atau social peserta didik dan pendidik sendiri. dalam menggunakan metode seorang pendidik harus memperhatikan dasar-dasar umum metode pendidikan Islam.
Sebab metode pendidikan merupakan sarana atau jalan menuju tujuan pendidikan, sehingga segala jalan yang ditempuh oleh seseorang haruslah mengacu pada daasr-dasar metode pendidikan tersebut dan memahami faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode yang paling tepat untuk pembelajran PAI, sehingga tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai secara maksimal dengan efektif dan efisien.


B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam penyusunan makalah ini rumusan masalah yang kami angkat adalah:
1.      Apa pengertian metode pembelajaran PAI?
2.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam memilih  metode pembelajaran PAI?
C.    Tujuan Penulisan
Berangkat dari rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui pengertian metode pembelajaran PAI
2.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dalam memilih metode pembelajaran PAI





















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Metode Pendidikan Agama Islam
Sebelum membicarakan lebih jauh tentang metode pendidikan agama islam, maka pada bagian ini kami akan menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian dari metode pendidikan agama islam itu sendiri. Secara etimologi kata metode berasal dari bahasa Yunani dari dua suku perkataan yaitu meta dan hodos, Meta berarti melalaui dan hodos berarti jalan atau cara.
Secara terminologi metode diartikan sebagai tata cara untuk melakukan sesuatu.[2] Lebih dari itu metode didefinisikan sebagai cara kerja atau cara yang teratur dan sistematis untuk melaksanakan sesuatu[3]. Dan hampir sama dengan arti tersebut metode diartikan sebagai cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu.[4] Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 1988 sebagaimana yang dikutip oleh Erwati Aziz, metode mengandung arti cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya), cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.[5]
Pengertian seperti diatas dapat digunakan pada berbagai objek termasuk pendidikan. Sehingga metode pendidikan  merupakan cara yang teratur dan terpikir baik-baik yang digunakan untuk memberikan pelajaran kepada anak didik. DR. Nana Sudjana mendefinisikan metode pendidikan sebagai cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pendidikan.[6] Dan ketika dilekatkan dengan agama islam maka definisinya adalah metode tentang pendidikan materi-materi agama islam.

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dalam Memilih Metode PAI
Metode pendidikan merupakan salah satu sarana yang amat penting dalam mencapai tujuan pendidikan.  E. Mulyasa menuliskan bahwasannya dalam proses interaksi edukasi seorang pendidik atau guru harus mampu memberikan pengalaman yang bervariasi, serta memperhatikan minat dan kemampuan siswa.[7] Masih menurut E.Mulyasa bahwasannya pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru. Senada dengan E. Muyasa, Nana Sudjana menyatakan bahwa proses interaksi edukasi  akan berjalan baik jika siswa banyak aktif dibanding dengan guru. Oleh karena itu metode belajar yang baik adalah yang dapat menumbuh kembangkan kegiatan belajar siswa.[8]
Dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan sebelum memilih metode yang akan kita pakai. Winarno Surahmat menyatakan bahwa setidaknya ada lima faktor yang perlu kita perhatikan yakni[9] :
1.      Siswa (dengan berbagai tingkat kematangan dan minatnya)
2.      Tujuan (dengan berbagai jenis dan fungsinya)
3.      Situasi (dengan berbagai keadaannya)
4.      Fasilitas (dengan berbagai kuailitas dan kuantitasnya)
5.      Pengajar (dengan bernagai kemampuannya)
Sedangkan Wenstenlein juga mempertimbangkan lima hal dalam menetukan metode pendidikan yang akan dipakai, yakni[10]:
1.      Tujuan
2.      Lingkungan pendidikan dan peralatan
3.      Sistem pendidikan
4.      Kebutuhan anak didik
5.      Kemampuan pendidik
Sedangkan Ahmad Pathoni dalam bukunya metodologi pendidikan agama islam menuliskan bahwasannya ada 6 faktor yang mempengaruhi metode pendidikan[11], anatara lain :
1.      Tujuan pendidikan
2.      Bahan pendidikan
3.      Guru/pendidik
4.      Anak didik
5.      Situasi mengajar
6.      Faktor lain, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi jenis metode tersebut.
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pendidikan tidak jauh berbeda. Satu sama lain saling melengkapi dan terkadang hanya penyusunannya saja yang berbeda.
Berdasarkan pendapat para tokoh di atas, maka kami berpendapt bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi metode pendidikan adalah
1.      Siswa atau peserta didik
Pemilihan suatu metode pembelajaran, harus menyesuaikan tingkatan jenjang pendidikan siswa. Pertimbangan yang menekankan pada perbedaan jenjang pendidikan ini adalah pada kemampuan peserta didik, apakah sudah mampu untuk berpikir abstrak atau belum.
Penerapan suatu metode yang sederhana dan yang kompleks tentu sangat berbeda, dan keduanya berkaitan dengan tingkatan kemampuan berpikir dan berperilaku peserta didik pada setiap jenjangnya.
Di  ruang  kelas  guru  akan  berhadapan  dengan  sejumlah  anak  dengan  latar belakang kehidupan yang berlainan. Status sosial mereka juga bermacam-macam.  Demikian  juga  dengan  jenis  kelamin  serta  postur  tubuh.  Pendek kata dari aspek fisik selalu ada perbedaan dan persamaan pada setiap anak didik.
Sedangkan  dari  segi  intelektual  pun  sama,  ada  perbedaan  yang ditunjukkan  dari  cepat  dan  lambatnya  tanggapan  anak  didik  terhadap rangsangan  yang  diberikan  dalam  kegiatan  belajar  mengajar.  Aspek psikologis  juga  ada  perbedaan  yaitu  adanya  anak  didik  yang  pendiam, terbuka,  dan  lain-lain.
Perbedaan  dari  aspek  yang  disebutkan  di  atas mempengaruhi  pemilihan  dan  penentuan  metode  yang  mana  sebaiknya guru  ambil  untuk  menciptakan  lingkungan  belajar  yang  kreatif  dalam waktu  yang  relatif  lama  demi  tercapainya  tujuan  pengajaran  yang  telah dirumuskan secara operasional.
2.      Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
Setiap pelaksanaan pembelajaran tentu memiliki tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Penyelenggaraan pembelajaran bertujuan agar pesera didik sebagai warga belajar akan memperoleh pengalaman belajar dan menunjukkan perubahan perilaku, dimana perubahan tersebut bersifat positif dan bertahan lama.
Kalimat tersebut dapat dimaknai bahwa pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang tidak hanya akan menambah pengetahuan peserta didik tetapi juga berpengaruh terhadap sikap dan cara pandang peserta didik terhadap realitas kehidupan.
Tujuan  pembelajaran adalah  sasaran yang  dituju  dari  setiap  kegiatan  belajar  mengajar. Hal  ini  dapat  mempengaruhi  penyeleksian  metode  yang  harus  digunakan. Metode  yang  dipilih  guru  harus  sesuai  dengan  taraf  kemampuan  yang hendak diisi ke dalam diri setiap anak didik. Jadi metode harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
3.      Materi pembelajaran
Materi pelajaran memiliki tingkat kedalaman, keluasan, kerumitan yang berbeda-beda. Materi pembelajaran dengan tingkat kesulitan yang tinggi biasanya menuntut langkah-langkah analisis dalam tataran yang beragam. Analisis bisa hanya pada tataran dangkal, sedang, maupun analisis secara mendalam. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat mampu memberikan arahan praktis untuk mengatasi tingkat kesulitan suatu materi pembelajaran.
4.      Situasi atau dinamika kelas
a.       Jumlah peserta didik.
Jumlah peserta didik dalam satu kelas perlu menjadi pertimbangan dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Dalam kelas yang jumlah peserta didiknya melampau batas, guru akan kewalahan mengampu pembelajaran. Pencapaian tujuan belajar akan menjadi lebih sulit karena ketidakseimbangan antara porsi maksimal perhatian dan penanganan yang dapat diberikan guru, dengan kondisi besarnya jumlah siswa yang akan menimbulkan berbagai keruwetan. Kelas yang over capasity, cenderung sulit diatur, gaduh, peserta didik sulit untuk memfokuskan perhatian secara konsisten terhadap pelaksanaan pembelajaran dan berbagai masalah lainnya.
Pemilihan metode yang tepat akan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang memberdayakan. Artinya, dengan penggunaan metode tersebut setiap peserta didik tidak luput dari perolehan peran dan porsi keterlibatan dalam pembelajaran.
b.      Karakter kelas.
Pemilihan metode pembelajaran harus memperhatikan karakter kelas. Karakter kelas menyangkut sifat dan sikap peserta didik dalam tataran umum untuk ruang lingkup kelas. Guru harus memiliki ketajaman pandangan dan mampu menilai karakter yang dimiliki oleh kelas-kelas yang diampunya. Setiap kelas memiliki karakternya masing-masing. Salah satu keterampilan wajib seorang guru adalah dalam hal penguasaan kelas. Penguasaan kelas bukan diartikan guru dominan dan diktatoris, tapi guru sangat mengenali dan memahami secara mendalam karakter kelas yang diampunya.
Cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui karakter kelas adalah dari sikap yang paling dominan yang dimiliki kelas tersebut, dimana sikap dominan tersebut merupakan sikap yang mencirikan (membedakan) kelas tersebut dengan kelas lainnya. Ini berarti setiap kelas memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Sikap dominan bisa ditelusur dari indikasi-indikasi seperti yang tampak, antara lain:
1)       Seberapa kooperatifkah warga belajar.
Kelas yang kooperatif adalah kelas yang mampu dan bisa ‘diajak’ bekerjasama. Hal ini tampak dari sebagian besar peserta didik mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, sehingga suasana kelas cenderung kondusif, pembelajaran dapat berjalan dengan sangat baik. Namun jika keadaan sebaliknya, seperti kegaduhan yang melebihi batas, peserta didik malas dan enggan menunjukkan partisipasi yang diharapakan dalam proses pembelajaran, ini tandanya kelas tersebut perlu mendapatkan pendekatan dari guru agar lebih kooperatif.
2)      Adakah kelompok dominan dalam kelas tersebut.
Kelompok dominan di kelas biasanya mampu mengontrol situasi kelas sesuai yang mereka inginkan. Jika yang berkembang adalah kelompok dominan dengan kebiasaan negatif, maka situasi kelas akan tidak kondusif untuk pelaksanaan pembelajaran. Peserta didik akan cenderung gaduh, tidak kooperatif, bahkan menunjukkan sikap yang memojokkan guru.
Menghadapi situasi demikian, guru perlu memiliki kemampuan interpersonal dan ketepatan dalam pemilihan metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan metode belajar yang tepat pada kenyataanya mampu mengatasi masalah dominasi kelompok tertentu dalam lingkup kelas.
3)      Bagaimana performa dan tingkat partisipasinya.
Guru biasanya akan mudah menilai bagaimana performa dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Penilaian tersebut kemudian akan memunculkan pandangan apakah kelas tersebut termasuk kelas aktif atau kelas pasif. Pemilihan metode pembelajaran untuk kelas aktif tidak akan menyulitkan guru dalam menentukan metode mana yang akan digunakan. Berbeda dengan kelas pasif, guru harus memilih metode mana yang cocok agar dengan metode tersebut mampu mendorong tingkat partisipasi peserta didik dan memunculkan performa mereka.
5.      Fasilitas pembelajaran
Fasilitas pembelajaran berfungsi untuk memudahkan proses pembelajaran dan pemenuhan kebutuhan proses pembelajaran. Bagi sekolah yang telah memiliki fasilitas pembelajaran yang lengkap, ketersediaan fasilitas belajar bukan lagi suatu kendala. Namun demikian tidak semua sekolah memiliki fasilitas pembelajaran dengan standar yang diharapkan.
Keadaan tersebut hendaknya tidak menjadi suatu hambatan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang tetap mampu menjangkau tujuan pembelajaran. Dalam kondisi tertentu, guru-guru yang memiliki semangat dan komitmen yang kuat tetap mampu menyelenggarakan pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Fasilitas  merupakan  hal  yang  mempengaruhi  pemilihan  dan  penentuan metode  mengajar.  Fasilitas  adalah  kelengkapan  yang  menunjang  belajar anak  di  sekolah.  Lengkap  tidaknya  fasilitas  belajar  akan  mempengaruhi pemilihan metode mengajar.
6.      Alokasi waktu.
Pemilihan metode pembelajaran yang tepat juga harus memperhitungkan ketersediaan waktu. Rancangan belajar yang baik adalah penggunaan alokasi waktu yang dihitung secara terperinci, agar pembelajaran berjalan dengan dinamis, tidak ada waktu terbuang tanpa arti. Kegiatan pembukaan, inti, dan penutup disusun secara sistematis. Dalam kegiatan inti yang meliputi tahap eksplorasi – elaborasi – konfirmasi, mengambil bagian waktu dengan porsi terbesar dibandingkan dengan kegiatan pembuka dan penutup.
7.      Guru/Pendidik.
Latar  belakang  pendidikan  guru  diakui  mempengaruhi  kompetensi. Kurangnya  penguasaan  terhadap  berbagai  jenis  metode  menjadi  kendala dalam  memilih  dan  menentukan  metode.  Apalagi  belum  memiliki pengalaman  mengajar  yang  memadai.  Tetapi  ada  juga  yang  tepatmemilihnya  namun  dalam  pelaksanaannya  menemui  kendala  disebabkan labilnya  kepribadian  dan  dangkalnya  penguasaan  atas  metode  yang digunakan.






















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Metode pendidikan  merupakan cara yang teratur dan terpikir baik-baik yang digunakan untuk memberikan pelajaran kepada anak didik. ketika dilekatkan dengan agama islam maka definisinya adalah metode tentang pendidikan materi-materi agama islam.
Dalam memilih metode yang paling tepat untuk digunakan dalam proses pembelajaran harus memperhatikan beberapa faktor antara lain:
1.      Siswa atau peserta didik
2.      Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
3.      Faktor materi pembelajaran
4.      Situasi belajar mengajar atau dinamika kelas
5.      Fasilitas
6.      Alokasi Waktu
7.      Guru/Pendidik.
B.     Saran
Demikian telah diselesaikannya makalah ini, kami sebagai penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menjadikan kami lebih baik lagi dalam menyusun karya-karya yang akan datang maupun perbaikan karya yang telah kami tulis, sehingga karya kami semakin bermanfaat.
Kami berharap semoga makalah yang sangat sederhana ini memberikan kontribusi dalam kazanah ilmu pengetahuan dan memberikan kemanfaatan bagi pembacanya.




DAFTAR PUSTAKA

Achmad Patoni. 2004. Metodologi Pendidikan agama Islam. Bina Ilmu. Jakarta
Dahlan al-Barri & M. Pius A. Partanto.1994. Kamus Ilmiah Populer. Arkola. Surabaya.
E. Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional “Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan”. Remaja Rosdakarya. Bandung
Erwati Aziz.  2003. Prinsip-prinsip Pendidikan Islam .Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Solo.
Nana Sudjana. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru. Bandung
Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia. Jakarta.
Saliman & Sudarsono.1994. Kamus Pendidikan, Pendidikan dan Umum, Rineka Cipta. Jakarta.
Winarno Surahmat. 2003. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Tarsito. Bandung


[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2008. h :22
[2] Saliman & Sudarsono. Kamus Pendidikan, Pendidikan dan Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.
[3] Dahlan al-Barri & M. Pius A. Partanto. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya : Arkola, 1994.
[4] http://Alimanjogja.blogspot.com
[5] Erwati Aziz. Prinsip-prinsip Pendidikan Islam . Hal.79
[6] Nana Sudjana. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Hal. 76
[7] E. Mulyasa. Menjadi Guru Profesional “Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan”. hal. 107
[8] Ibid. hal.76
[9] Winarno Surahmat. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar.hal.97
[10] Wenstenlain. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Buku Panduan Mahasiswa).hal.92-93
[11] Achmad Patoni. Metodologi Pendidikan agama Islam. hal.107-109

Kamis, 10 November 2016

Pranata Adicara Ngunduh Mantu (mudah dan sederhana)





Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh…
MUQODDIMAH……
Dumateng Ngarsanipun para sesepuh, pinisepuh, para ‘alim ulama ingkang satuhu lepdho ing pitutur, pono ing pamaos ingkan pantes kinormatan saha dipun mulyaaken dening Allah SWT. wabil khusus ing ngarsanipun Rama kiyai ……………………………………. Ingkang dipun tenggo menggah mau’idhah khasanahipun.
dumateng bapa (…………………………..) saha rombongan besan saking tlatah (…………………………..) ingkang pantes pinundhi..
Para tamu kakung sumowono potri ingkang pantes sinudharsono
Para kadang werdho mudo taruno inggkang kulo tresnani
Minanggko purwakaning atur, sumonggo kulo derekaken tansah ngunjukaken puji syukur dumateng ngarso dalem Allaah SWT ingkang paring nikmat saha rohmat demateng kulo saha panjengenan, katitik wonten ing rikalenggahan puniko kulo saha panjenengan saged kempal manunggal nuhoni punopo ingkang dados bapa (…………………………..) kanti wilujeng nir ing sambe kala.
Saklajengipun Salawatulloh wasalamuhu mugi tnsah kunjuk dumateng ngarsanipun nabi agung Muhammad SAW ingkang kulo saha panjenengan tenggo menggah syafaatipun min hadha ila yaumil kiyamah.
Para tamu kakung sumowono putri ingkang pantes sinudharsono
Sakderengipun kulo nyuwun agunging samudro pangaksomo, mbok bilihkulo cumanthoko ngadeng ing mriki, mboten sanes kulo hamung minangka sulih sariro saking pajengenipun bapa (…………………………..) kinen hangaturaken rantamaning adicara pawiwahan wonten ing pahargyan ndalu puniko.
Para tamu kakung sumowono putri ingkang pantes sinudharsono
Wondene rantamaning adicara wonten ing pahargyan ndalu piniko nuninggih;
Ingkang sepisan atur pambuko,
Kalajengaken adicara ingkang ongko kalih nuninggih waosan ayat-ayat suci Al Quran ingkang badhe dipun pratitisaken dening panjenenganipun ustad (………………………….)
Adicara ingkang ongko tigo nuninggih atur pasrah-panampi pinangantun kakung. Wondene atur pasrah saking bopo (………………………) sakmangkih badhe kasalirani dening panjenenganipun bapa (………………………..), wondene atur panampi saking bapa (…………………………..) Isakmangkih badhe kasalirani dening bapa (…………………….)
Adicara ingkang ongko sekawan nininggih sumene/istirahat
Adicara ingkang angka nem nuninggih atur pambagya raharjo saking bapa (…………………………..) dumateng para tamu ingkang sakmangkih badhe kasalirani dening panjenganipun bapa (…………)
Adi cara ingkang ongko pitu nininggih mau’idhoh hasanah ingkang insyaAllah kawedar dening panjenenganipun rama kiyai (………………………………..)
Adi cara ingkang ongko wolu nuninggih hastungkoro/Doa
Adicara ingkang pungkasan nuninggih panutup
Para tamu kakung sumowono putri ingkang dahat kinormatan.
Mekaten mengggah rantamaning adicara wonten pahargyan ri kalenggahan puniko.
Para tamu kakung sumowono putri ingkang dahat kinormatan.
Sumonggo adicara wonten ing rikalenggahan puniko dipun bikak kanti waosan suratul Fatikhah, kanti pangajap mugi pahargyan wonten ing siang puniko tansah pinayungan rahmatipun Alllah SWT. ngala hadhihinniyah wa ‘ala kulli niatin sholihah, Alfatikhah…..
Para tamu kakung sumowono putri ingkang pantes kinabehten, wondene adicara saklajengipun nuninggih waosan ayat-ayat suci Al Quran ingkang dipun pratitisaken panjenganipun ustad( ………….), dumateng panjenenganipun ustad ………. Kulo sumanggaaken, sumonggo….
Mekaten menggah waosan ayat-ayat suci Al Qur’an ingkang sampun paripurna,  mugi tansah paring kaberkahan duteng kulo saha penjenengan, langkung-langkung dumateng pinanganten sarimbit.. amin.amin alluhumma amin.
Para tamu kakung sumowono putrid ingkang pantes sinudarsono,
Adicara ingkang ongko tigo nuninggih atur pasrah-panampi pinanganten kakung, wondene atur pasrah saking bopo (……….) kasalirani dining panjenganipun bapa (…….). saha atur panampi saking Ibu (marfu’ah sekeluarga.)kasalirani dening panjenganipun bapa (………) ,
Dumateng para ingkang sampun kasebat, kulo aturi jengkar saking sasono palenggahan tumuju wonten ing sasono pangendikan… sumonggo….
(acara)
Mekaten atur pasra pinanganten putri saking bapa (……) ingkang sampun kasalirani dening panjenenganipun bapa (…….) ,, selajengipun atur panampi saking bapa (…………………………..) kasalirani dening panjenenganipun bapa (…………………..) , dumateng panjenganipun kulo semanggaaken, sumonggo….
(acara)
Para tamu kakung somowono putrid ingkang pantes kinormatan,
Adicara ingkang saklajengipun nunionggih istirahat,
Dumateng para kadang mudho taruno saha juru ladhi kulo sumanggaaken ngaturaken kewajibanipun, ((sinambi para tamu kakung sumowono putrid ngrantos juru ladhi ngaturaken kewajibanipun, adicara sakmeniko badhe dipun regengaken dening grup …………., dumateng grup …………………., kulo sumangga aken. Sumonggo…
Para tamu kakung somowono putri ingkang pantes kinormatan,
Adicara isrtirahat  dipun cekapaken semanten, kalajengaken adicoro saklajengipun nuninggih Mau’idhoh hasanah ingkang bade dipun babar dening panjenganipun almukarom room kiyai ,,,,…………… dumateng almukarom rama kiyai …………., kulo sumangga aken , sumonggo….
(acara)
Para tamu kakung somowono putri ingkang dahat kinormatan,
Mekaten menggah mau’idhoh hasanah ingkang sampun kaaturaken dening rama kiyai …….. mugi saged nambahi kaimanan saha katakwaan kulo saha panjenengan sedoyo, lamgkung-langkung dumateng pinanganten sarimbit ingkang badhe bale wismo saha bebrayan agung.
Para tamu kakung somowono putri ingkang pantes kinormatan,
Mekaten menggah lampahipun adicara wonten ing pahargyan rikalenggahan puniko sampun paripurno,  kulo minongko pranoto adicara mbokbilih anggen kulo matur kirang trapsilo sha kirang subosito  kulo nyuwun agunging samudro pangaksomo. Monggo pahargyan ing rikalenggahan puniko dipun tutup kanti waosan hamdalah.. kulo derekaken .Alhamdulillahirobbil ‘alamii,
Saking kulo cekap semanten, akhirul kalam, wassalamu’alaikum Wr Wb.
(( nyuwun sewu dumateng para tamu kakung sumowono putri kulo suwun pinarak sak wetawis, ngrantos juru ladhi ingkang badhe ngaturaken daharan dumateng para tamu))

Rabu, 02 November 2016

APAPUN YANG DIHADAPI, BERPELUANG JADI PINTU SUKSES



Setiap orang pasti mempunyai cita-cita mulia, mereka membuat perencanaan dan memulai mmenyusun langkah-langkah sistematis untuk meraih cita-citanya, sebagaimana orang bijak menyebutkan bahwa “orang yang tidak membuat perencanaan, sama halnya dengan merencanakan gagal”. Berangkat dari hal ini kemudian banyak orang membuat perencanaan-perencanaan dan target pada setiap pos waktu yang mereka tetapkan demi menuju sukses yang diinginkan. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa disela-sela rencana yang telah dibuat masih ada banyak ruang yang tidak bisa dimasukkan dalam ruang perencanaan kita, disinilah diperlukannya Managemen Kebetulan. Yaitu suatu memanagemen diri  dalam menyambut datangnya peluang baik bagi kesuksesan kehidupan dunia maupun akhirat yang bisa datang kapanpun dari arah manapun melalui siapapun.
Memang terdengar lucu, kebetulan kog dimanagemen, tapi hal ini terbukti bahwa sering sekali yang kebetulan justeru membukakan peluang-peluang baik dalam kebaikan hidup di dunia maupun akhirat. Saya sangat setuju ungkapan Taufiq Pasiak dalam salah satu bukunya “orang sukses mengelola pertemuan mereka sebagai peluang” yang kemudian beliau juga memaparkan 10 prinsip managemen kebetulan yang kemudian akan saya coba kembangkan di kesempatan ini sesuai pemahaman dan pengalaman yang pernah saya dapatkan.
10 prinsip managemen kebetulan tersebut adalah:
1.       Setiap orang adalah orang baik sampai ia membuktikan dirinya orang jahat.
Hal ini mengharuskan kita untuk selalu ber-positif thinking kepada semua orang yang kita jumpai (dalam bahasa penyidik: Asas praduga tak bersalah). Sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an : ”Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati?tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, Sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang (QS al-Hujrat : 12). Kehati-hatian tetap diperlukan dalam batas kewajaran dan rasionalitas.
2.       Setiap orang atau peristiwa pasti memiliki dua sisi, baik dan buruk,
Mereka yang cenderung melihat hal-hal buruk saja dari sebuah peristiwa cenderung menjadi orang yang gagal dalam kehidupan. Pikiran negative menghasilkan tindakan negative, pikiran positif menghasilkan tindakan positif.
3.       Jauh lebih baik mengelola hal-hal baik, daripada mencerca hal-hal buruk.
Sebagi mana orang bijak berkata : “lebih baik menyalakan lilin dari pada menghujat kegelapan
4.       Setiap orang atau kejadian buruk pasti memberikan hikmah dan pelajaran.
karenanya, orang-orang yang lebih berpotensi sukses tidak lantas berputus asa atas kejadian yang kurang disenangi, karena mereka menyadari bahwa ini adalah  aset pelajaran dan pengalaman penting dalam rangkaiaan perjalan menuju yang dicita-citakannya
5.       Berbuat baik kepada orang lain akan menambah tabungan social kita
yakin saja, tabungan-tabungan baik yang telah kita simpan, suatu saat akan berbuah kebaikan bagi kita, seperti wejangan orang tua jawa "sing sapa nandur, bakale ngunduh"
6.       Usaha keras, ulet dan disertai do’a.
tidak diragukan lagi, bahwa ketiga rangkaian usaha ini (kerja keras, ulet dan do'a) merupakan sutu jalan yang wajib ditempuh oleh para pencari keberhasilan, apapun usaha kita lakukan dengan usaha yang keras, ulet dan harus disertai dengan berdoa, karena sesungguhnya do'a itu merupakan suatu sikap optimis dalam kepasrahan terhadap Yang Maha Kuasa
7.       Menyukai dan membenci orang jangan sampai berlebihan.
karena bisa jadi sesuatu yang sangat kamu cintai itu amat buruk bagimu disisi Allah SWT, dan sebaliknya, sesuatu yang kamu benci bisa jadi itu amat baik bagimu disisi Allah SWT
8.       Lakukan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan jika bertemu seseorang.
      bisa jadi orang yang kita temui merupakan salah satu pembawa kunci pintu sukses kita.
9.       Lakukan hal-hal tertentu tanpa pamrih
       karena justru ketika kita melepas harapan terhadap pamrih. disitu kita sering merasakan kebahagiaan dan kepuasan,
10.   Peluang baik harus dibagi.
      ingat! ketika kita ada peluang baik, jangan di ambil sendiri, kita ajak orang lain donk, jangan hanya puas menjadi paling sukses, sementara orang lain disekitar kita belum sukses, ajak dan ajari orang lain untuk ikut suses..
  

Senin, 03 Oktober 2016

SENI HIDUP BIJAKSANA: “REFLEKSIKAN DIRI PADA ORANG LAIN, PERSEPSIKAN ORANG LAIN SEPERTI DIRI SENDIRI”




 SENI HIDUP BIJAKSANA: “REFLEKSIKAN DIRI PADA ORANG LAIN, PERSEPSIKAN ORANG LAIN SEPERTI DIRI SENDIRI”
Sebuah ungkapan sederhana diatas jika di implementasikan dalam dinamika kehidupan, tentu akan menjadikan hidup semakin hidup dengan bijaksana  luar biasa, namun pengimplementasiannya pada system tatanan hidup bersosial masyarakat masih menjadi hal langka, karena hal ini harus dimulai dengan peleburan egoisme yang cenderung mendominasi jiwa manusia. Sebenarnya hal ini  tidak begitu tergantung pada seberapa tinggi tingkat pendidikan  seseorang namun lebih pada kesadaran menghargai orang lain yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang  berkecerdasan social.
Perlu ditanamkan pada diri masing-masing pribadi bahwa setiap manusia sama-sama memiliki kesibukan, memiliki kebutuhan yang sama satu sama lain dan  mengemban tanggung jawabnya masing-masing. Sangat bertolak belakang dengan prinsip kebijaksanaan jika masih ada yang menganggap orang lain tidak memiliki kesibukan kemudian ditumpuki tanggung jawab yang seharusnya bukan tanggung jawabnya, dimintai menggantikan tugasnya dengan alasan berkesibukan, seolah-olah merasa dirinya paling sibuk, paling penting dalam tatanan kehidupan, atau paling memiliki kekuasaan. Lebih parahnya lagi dengan disertai merendahkan orang lain.
Seringkali seseorang ingin dimengerti namun tidak mencoba mengerti orang lain, ingin di perhatikan namun tak menyempatkan memperhatikan orang lain.
Sudah selazimnya setiap insan menyadari kehidupan dan memperindah hidup dengan membangun empati kepada manusia lainnya, memperlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan diri sendiri. Memberikan hak sebagaimana menuntut hak, memahami sebagaimana ingin dipahami. Dengan cinta dan empati itulah manusia akan merasakan kebahagiaan hidupnya.

MULUT, MATA, DAN TELINGA

Allah Swt. menganugrahkan kepada manusia 1 mulut, 2 telinga, dan 2 mata sebagai alat indra yang sangat penting dalam proses menerima rangsan...